ContohNaskah Pidato tentang Macam-macam Kecerdasan Manusia Terbaru dan cakap dalam membedakan suasana hati, temperamen, motivasi dan keterampilan-keterampilan orang lain. Menurut N. K Humprey, intelegensi sosial ini merupakan bentuk yang paling penting dalam intelegensi manusia, karena dinilai mampu memelihara hubungan manusia secara
Pembukaan ceramah Sebhedhen bule moljeeken para alim ulama’ para keae para ghuru serta para oreng toa seempon nyempataken bektona untuk ngedingaken pangajhien sabe’den asholat asar serutin, elaksanaaken teap bulan ramadan dinto naddhe manjhetaken pojhi sokkor kahadirat allahswt, sempon apareng nikmat ben rahmat anak abhedhen kaule sareng panjhenengan sholatullah wasalamuhu mandheer moghe salawat serta salam seecurah akenna kabaginda nabi besar muhammad saw, seempon ngereng bule deri alam jahiliyah eghibe ka alam seterang benderang seterang ekalaben iman wal bule nyato saporana, karena sangat tak pantes ongghu bagi bhedhen kaule untuk ngaongghune tempatna ustad-ustad bule selebbi oneng deri pada bule, sedangkan bule tak oneng nape-nape bule hanyalah kanak-kanak santre, seaolle amanat untuk ngesse pangajhien eareke.....ben selanjutna bule sangat berterimakasih ongghu terutama kapengurus ta’mir masjid muhajirin edinto, seenape ento merupakan pertama kalina bagi bhedhen bule sebagai kesempatan untuk ngalatih mental kaule, ma’mare ngetter mon apandir eadekna oreng benyyak, dheddhi nape-nape nantena seakan esamapaiakaen bhedhen bule mungkin sampean ragu terhadap penyampaianna bule naddhe tanyaaken saos ka ustad-ustad na bule selebbi oneng deri pade bule mungkin bule mempersingkat bekto bule edinto akan menyampaiakan tentang 5 payaketta SombongSikap sombong adalah penyakit hati yang sangat dibenci oleh Allah Swt. Sifat sombong dan membesarkan diri takabur inilah yang menjadi penyebab kafirnya Iblis kepada Allah. Karena kesombongannya, Iblis menolak untuk sujud kepada Adam as. Iblis menganggap bahwa dirinya lebih baik karena tercipta dari api, sedangkan Adam tercipta dari tidak berhak untuk sombong karena punya banyak keterbatasan, sedangkan berbagai kelebihan yang dimiliki pun berasal dari Allah. Dia memerintahkan kita untuk menjauhi sifat sombong sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Isra ayat 37 yang artinya,“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.”2. UjubUjub merupakan penyakit hati yang akan membawa seseorang kepada kesombongan. Ujub artinya takjub kepada diri sendiri dan merasa bangga dengan sesuatu yang bersabda, “Tiga hal yang membawa pada jurang kebinasaan 1 tamak lagi kikir, 2 mengikuti hawa nafsu yang selalu mengajak pada kejelekan, dan ujub takjub pada diri sendiri.” HR. Abdur Razaq3. HasadHasad atau iri dan dengki adalah perasaan tidak suka yang timbul pada hati seseorang apabila melihat atau mendengar kebahagiaan yang dirasakan orang lain. Penyakit hasad ini harus segera dihilangkan karena segala yang diperoleh masing-masing orang sudah ditentukan kadar dan ukurannya oleh Allah Swt. Penyakit hasad dapat mengikis pahala amal hadis Nabi saw berikut; “Waspadalah terhadap hasud iri dan dengki, sesungguhnya hasud mengikis pahala-pahala sebagaimana api memakan kayu”. HR. Abu Dawud4. Bakhil atau kikirSifat bakhil ini menyebabkan seseorang merasa kekurangan dan takut akan kehabisan harta, sehingga tidak mau memberikan sedikit hartanya kepada orang yang firman Allah dalam surah Ali 'Imran ayat 180 yang artinya,“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan yang ada di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”5. Riya’Riya merupakan penyakit hati yang dilarang karena dapat menghilangkan pahala amal saleh yang dilakukan. Karena riya menghilangkan rasa tulus ikhlas beribadah dan beramal hanya untuk Allah dari dalam hati. Orang yang memiliki penyakit riya ini hanya akan berbuat baik apabila dilihat oleh orang lain dengan tujuan untuk mendapatkan Swt berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 264 yang artinya,“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan pahala sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan si penerima, seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih tidak bertanah. Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”Itulah penyakit yang harus dihilangkan dari hati setiap muslim. Semoga kita selalu diberi ilham dan ditunjukkan jalan yang lurus oleh Allah, sehingga terhindar dari penyakit hati dan akhlak PenutupDari awal hingga akhir mungkin banyak kasalaan kalopotan dari penyampaian bheddhen bule negghellek, mon salah ento murni dari bule kandhirik, mn bhender ento murni detengga deri allah,Mungkin cokop samento saos deri bheden bule, korang lebihna nyoon sapora sumssalamualaikum warahmatullahi Semogakita semua kelak mendapatkan syafaatnya. Aamiin. Hadirin yang dimuliakan Allah. Dalam ajaran islam diketahui bahwa manusia menjalani kehidupan dalam beberapa alam kehidupan, Alam kehidupan manusia yang pertama adalah alam roh. Di dalam alam inilah, Allah menciptakan roh manusia yang begitu suci dan bersih. By Selasa, 07 Januari 2020 pukul 241 pmTerakhir diperbaharui Selasa, 07 Januari 2020 pukul 241 pmTautan Berdzikir Adalah Kehidupan Untuk Hati Manusia adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Kifayatul Muta’abbid wa Tuhfatul Mutazahhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Abbad Al-Badr pada 19 Rabbi’ul Tsani 1441 H / 16 Desember 2019 M. Pembahasan halaman 238 pada kitab Kifayatul Muta’abbid wa Tuhfatul Mutazahhid. Penerjemah Ustadz Iqbal Gunawan, Download mp3 kajian sebelumnya Doa Yang Dibaca Setiap Hari dan Keutamaan Bertasbih Kajian Islam Ilmiah Tentang Berdzikir Adalah Kehidupan Untuk Hati Manusia Sahabat Abu Musa Al-Asy’ari Rahimaullah meriwayatkan bahwasannya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ الله وَالَّذِي لَا يَذْكُرُهُ، مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ “Perumpamaan orang yang berdzikir mengingat Allah dan orang yang tidak berdzikir seperti orang hidup dan orang mati.” HR. Bukhari dan Muslim Penjelasan Syaikh Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Abbad Al-Badr Dalam hadits ini disebutkan keutamaan berdzikir, keutamaan selalu menjaga ibadah ini dan keutamaan untuk terus menerus berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla. Dan bahwasannya berdzikir ini adalah kehidupan untuk hati-hati manusia. Dan semakin banyak seorang hamba berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka akan semakin baik kualitas kehidupan hatinya. Oleh karena itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah pernah mengatakan الذكر للقلب مثل الماء للسمك، فكيف يكون حال السمك إذا فارق الماء “Kebutuhan hati untuk berdzikir seperti kebutuhan ikan kepada air, bagaimana kondisi ikan apabila dipisahkan dari air?” Maka hidupnya hati yang mana tidaklah hati diciptakan kecuali untuk menegakkan dzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, untuk mentauhidkan Allah, mengagungkan Allah Azza wa Jalla. Ini adalah hakikat kehidupan yang sebenarnya untuk hati seorang hamba. Dan hadits ini tertera dengan dua lafadz, salah satu diantaranya مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ الله وَالَّذِي لاَ يَذْكُرُ رَبَّهُ، مَثَلُ الحَيِّ وَالمَيِّتِ “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah dan orang yang tidak berdzikir kepada Allah seperti perumpamaan orang yang hidup dan orang yang mati.” HR. Bukhari Adapun lafadz yang lain مثل البيت الذي يذكر الله فيه، والبيت الذي لا يذكر الله فيه، مثل الحي والميت “Perumpamaan rumah yang dibacakan di dalamnya dzikir kepada Allah dan rumah yang tidak dibacakan di dalamnya dzikir kepada Allah seperti orang mati dan orang hidup.” HR. Muslim Dan dua lafadz ini memberikan faedah bahwasanya dzikir ini sangat penting sekali untuk dilakukan di rumah-rumah kita. Dan rumah-rumah orang yang tidak berdzikir kepada Allah, maka rumah-rumah mereka seperti kuburan. Dan orang yang tidak berdzikir kepada Allah di rumahnya, seakan-akan rumahnya itu seperti kuburan. Dan hati yang tidak berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dadanya seperti kuburan untuk hatinya. Berkata Ibnul Qayyim Rahimahullah فجعل بيت الذاكر بمنزلة بيت الحي، و بيت الغافل بمنزلة بيت الميت، وهو القبر “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menjadikan rumah orang yang berdzikir kedudukannya seperti rumah orang yang hidup, adapun rumah orang yang lalai dari berdzikir maka kedudukannya seperti rumah orang yang sudah mati atau kuburan.” Dalam lafadz yang pertama, dijadikan orang yang berdzikir seperti orang yang hidup dan orang yang lalai dari berdzikir seperti orang yang mati. Maka dua lafadz ini mengandung makna bahwasanya hati orang yang berdzikir seperti orang yang hidup di rumah orang-orang yang hidup. Adapun orang yang lalai dari berdzikir seperti orang yang mati di rumah orang-orang mati, yaitu kuburan. Dan tentu saja tidak diragukan lagi jasad orang-orang yang lalai adalah kuburan untuk hati-hati mereka. Dan hati-hati mereka di dalam badan mereka seperti hati-hati yang mati. Maka kesimpulannya, seorang hamba seyogyanya selalu bersemangat untuk berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bahkan memperbanyak dzikir kepada Allah Azza wa Jalla sebagaimana perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam FirmanNya يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّـهَ ذِكْرًا كَثِيرًا ﴿٤١﴾ وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا ﴿٤٢﴾ “Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang banyak dan bertasbihlah di waktu pagi dan di waktu sore.” QS. Al-Ahzab[33] 41-42 Juga firman Allah Azza wa Jalla وَالذَّاكِرِينَ اللَّـهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّـهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا ﴿٣٥﴾ “Dan laki-laki yang banyak berzikir kepada Allah juga perempuan, Allah menyiapkan untuk mereka ampunan dan pahala yang agung.” QS. Al-Ahzab[33] 35 Downlod MP3 Ceramah Agama Tentang Berdzikir Adalah Kehidupan Untuk Hati Manusia Podcast Play in new window DownloadSubscribe RSS Jangan lupa untuk turut menyebarkan link download kajian ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum.. Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui Telegram Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui Facebook Dalamkitab Az-Zawajir, Ibnu Hajar al-Haitami menceritakan bahwa Imam al-Ghazali pernah ditanya tentang hukum menggunjing non-Muslim. Kemudian Imam al-Ghazali menjawab: هِيَ فِي حَقِّ الْمُسْلِمِ مَحْذُورَةٌ لِثَلَاثِ عِلَلٍ: "Bagi seorang Muslim menggunjing orang kafir dilarang karena tiga Ceramah Singkat Yang Dikenal oleh HatiFitrah Kebaikan di Dalam HatiSebab Kerusakan HatiMakna Ma’ruf dan MunkarVideo Ceramah Singkat Yang Dikenal oleh Hati Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala atas nikmat yang diberikan-Nya kepada kita yaitu kemudahan untuk mempelajari, memahami, dan mengamalkan Islam. Serta kemudahan untuk mengusahakan sebab-sebab yang memperbaiki keimanan dan ketakwaan di dalam hati kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia di atas fitrah yang cenderung kepada tauhid, kebenaran, dan kebaikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman; فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah.” QS. Ar-Rum[30] 30 Hanif itu merupakan fitrah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Dia ciptakan manusia di atas fitrah itu. Tidak ada perubahan dalam fitrah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman; وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ “Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan lurus. Kemudian syaithan mendatangi mereka dan memalingkan mereka dari agamanya.” HR. Muslim No. 2865A Fitrah Kebaikan di Dalam Hati Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Keadaan ini merupakan kabar gembira bagi kita. Bahwa secara asal, potensi hati kita lebih dekat dengan mengenal kebenaran, lebih mudah untuk diajak kepada tauhid, dan lebih dekat dengan keimanan yang benar. Sedangkan penyimpangan-penyimpangan itu kemudian datangnya sebagai pendatang baru. Adapun lurus mengikuti agama Allah Subhanahu wa Ta’ala, cenderung kepada tauhid, ini merupakan asal yang sudah ada potensinya dalam hati kita sejak kita dilahirkan di dunia ini. Makanya, upaya untuk mengembalikan diri kita kepada iman yang benar itu adalah perkara yang mudah. Apalagi dengan petunjuk Islam yang jelas yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sesuai dengan keadaan hati dan fitrah manusia. Ini akan mempermudah keadaan tersebut. Seandainya syaithan tidak menghalangi kita, tidak mengotori hati kita, kita akan mudah mengenal kebenaran. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda; استفت قلبك، الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إلَيْهِ النَّفْسُ، وَاطْمَأَنَّ إلَيْهِ الْقَلْبُ، “’Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebajikan itu adalah apa-apa yang menentramkan jiwa dan menenangkan hati,” HR. Ahmad dalam Arba’in An Nawawi hadits ke-27 Ini menggambarkan bahwa hati itu kalau benar, iman itu kalau benar, kebaikan itu bisa kita ambil dari hati. Tinggal bertanya kepada hati. Apa yang tenang, kita lakukan. Lalu apa yang rasanya tentram dan damai, kita kerjakan. Itulah kebaikan. Tapi ini tentu berlaku bagi orang-orang yang imannya benar dan hatinya bersih. Kemudian dari dalil hadits ini, para ulama mengambil kesimpulan. Seperti Imam Ibnu Rajab Al Hanbali dalam kitab Jami’ul Ulum Wal Hikam mengambil kesimpulan bahwa kebenaran itu memang asal yang telah ada pada hati manusia. Sedangkan keburukan dan penyimpangan itu datangnya kemudian/ belakangan. Syaithan menyusupkannya ke dalam hati kita. Sebab Kerusakan Hati Makanya kerusakan hati adalah ketika dia tidak bisa mengenali kebaikan sebagai kebaikan. Dan tidak mengingkari kemunkaran sebagai keburukan. Dalam sebuah atsar, Ibnul Qayyim rahimahullahu ta’ala menukil perkataan sahabat yang mulia Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu yang mengatakan; هَلَكَ من لا يكن له قلب يعرف به معروفا و يمكر به منكرا. “Binasalah orang yang tidak punya hati yang dengan hatinya dia bisa mengenali kebaikan sebagai kebaikan dan keburukan sebagai keburukan.” Kitab Ighatsatul Lahfan, 1/20 Oleh karena itu ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Mengenali kebenaran, menerimanya, memahami, dan mudah mengamalkannya adalah asal yang ada pada hati manusia. Keburukan datangnya kemudian. Keburukan yang dibisikkan oleh syaithan merupakan pendatang baru. Maka ini adalah kabar gembira bagi kita. Kalau ingin memperbaiki diri itu mudah. Asal kita belajar pemahaman agama yang benar dan kita dekatkan hati kita dengan keindahan agama. Bacalah Al-Qur’an dengan merenungkan isinya, ucapkan dzikir-dzikir yang disyariatkan dengan merenungi kandungannya. Maka hati kita akan terbuka kembali kepada fitrah asalnya. Akan mudah menerima hal tersebut, dan akan tenang dengannya. Inilah asal yang ada pada hati manusia. Makna Ma’ruf dan Munkar Oleh karena itulah, ketika Islam mengartikan istilah al-ma’ruf dengan kebaikan. Amar ma’ruf nahi munkar; memerintahkan kepada yang baik dan melarang dari keburukan. Al-ma’ruf secara bahasa artinya adalah yang dikenal. Tapi mengapa kita terjemahkan dengan kebaikan/ memerintahkan kepada kebaikan? Maksudnya dikenal dengan kebaikan adalah dikenal oleh hati. Munkar secara bahasa artinya bukanlah keburukan, tetapi yang asing tidak dikenal. Mengapa kita terjemahkan kemunkaran dengan keburukan? Karena pada asalnya, hati manusia tidak mengenalnya. Makanya Nabi Ibrahim alaihissalam dalam Al-Qur’an ketika datang malaikat yang bertamu ke rumah beliau, beliau mengucapkan; سَلَٰمٌ قَوْمٌ مُّنكَرُونَ “Salaamun kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal”QS. Az-Zariyat[51] 25 Munkar di sini bukan berarti kaum yang jelek. Maksudnya kaum yang saya tidak kenal, yang asing bagi saya. Ini artinya munkar secara bahasa. Kita artikan keburukan itu karena memang asalnya hati kita tidak mengenal keburukan. Maka kalau kita ingin kembali kepada Islam, belajarlah Islam yang benar. Di situlah kita dapatkan hati kita akan tenang dan akan hilang semua kegundahan dan kekalutan yang selama ini menimpanya. Maha Benar Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berfirman; الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ “yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” QS. Ar-Ra’d[13] 28 Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mudahkan ini bagi kita semua. Dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memudahkan bagi kita petunjuk-Nya untuk memperbaiki diri dan kembali kepada keimanan yang benar. Yang merupakan sebab ketenangan dan kedamaian jiwa kita yang sesungguhnya. Video Ceramah Singkat Yang Dikenal oleh Hati Mari turut menyebarkan catatan kajian tentang ceramah singkat “Yang Dikenal Oleh Hati” ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum.. MukaddimahCeramah Tentang Hati Manusia: Hati Yang Bersih. Bismillahirrahmanirrahim.. Segala puji kita panjatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, kita memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan meminta petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dari keburukan-keburukan Khutbah I الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِفَضْلِهِ تَتَنَزَّلُ الْخَيْرَاتُ وَالْبَرَكَاتُ، وَبِتَوْفِيْقِهِ تَتَحَقَّقُ الْمَقَاصِدُ وَالْغَايَاتُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّااللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَانَبِيَّ بَعْدَهُ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى. Dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu anhuma, Nabi ﷺ mengingatkan أَلاَ وَإِنَّ فِيْ الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ “Ingatlah bahwa di dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati jantung.” HR al-Bukhari dan Muslim Hadits ini bisa dimaknai dalam dua sudut pandang. Pertama, secara jasmani. Secara lahiriah, Nabi Muhammad ﷺ berpesan tentang betapa vitalnya fungsi jantung bahasa Arab qalb dalam tubuh manusia. Jantung punya fungsi utama memompa darah ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah. Jantung bertugas pula menyalurkan nutrisi ke seluruh tubuh dan membuang sisa metabolisme tubuh. Jantung yang normal adalah pangkal jasmani yang sehat. Sebaliknya, ketika jantung mengalami gangguan, maka terganggu pula kesehatan tubuh secara keseluruhan. Kedua, secara rohani. Istilah qalb dimaknai sebagai apa yang sering kita sebut dengan “hati”. Hati memang tak kasat mata tapi pengaruhnya kepada setiap gerak-gerik manusia amat menentukan. Ia tempat berpangkalnya niat. Tulus atau tidak, jujur atau pura-pura, lebih sering hanya diketahui oleh Allah dan pemilik hati sendiri. Dalam Islam, hati merupakan sesuatu yang paling pokok. Ibarat jantung, rusaknya hati berarti rusaknya tiap perilaku manusia secara keseluruhan. Maksud dari hadits Rasulullah tentu lebih pada pemaknaan yang kedua ini. Jamaah shalat Jumat hafidhakumullah, Untuk menjaga agar hati tetap “sehat”, perlu kiranya kita menjawab sebuah pertanyaan apa yang menyebabkan hati rusak? Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Munabbihât ala Istidâdi li Yaumil Mîâd memaparkan penjelasan Imam Hasan al-Bashri bahwa setidaknya ada enam hal yang membuat hati manusia menjadi rusak. Pertama, berbuat dosa dengan berharap kelak ia bisa bertobat. Ia sadar bahwa apa yang dilakukan adalah kedurhakaan, tapi berangan-angan ia bisa menghapus kesalahan-kesalahan kini di kemudian hari. Ini merupakan sebuah kesombongan karena terlalu percaya diri bahwa Allah akan memberinya kesempatan bertobat lalu melimpahinya rahmat. Juga masuk kategori sikap meremehkan karena perbuatan dosa dilakukan bukan karena kebodohan melainkan kesengajaan. Alih-alih tobat bakal datang, bisa jadi justru hati makin gelap, dosa-dosa kian menumpuk, dan kesadaran untuk kembali kepada Allah makin tumpul. Kedua, berilmu tapi tidak mau mengamalkannya. Pepatan bijak mengatakan, al-ilmu bilâ amalin kasy syajari bilâ tsamarin ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah. Pengamalan dalam kehidupan sehari-hari dari setiap pengetahuan tentang hal-hal baik adalah tujuan dari ilmu. Hal ini juga menjadi penanda akan keberkahan ilmu. Pengertian “tidak mengamalkan ilmu” bisa dua mendiamkannya hanya sebagai koleksi pengetahuan dalam kepala, atau si pemilik ilmu berbuat yang bertentangan dengan ilmu yang dimiliki. Kondisi ini bisa menyebabkan rusaknya hati. Ketiga, ketika seseorang beramal, ia tidak ikhlas. Setelah ilmu diamalkan, urusan belum sepenuhnya beres. Sebab, manusia masih dihinggapi hawa nafsu dari mana-mana. Ia mungkin saja berbuat baik banyak sekali, namun sia-sia belaka karena tidak ada ketulusan berbuat baik. Ikhlas adalah hal yang cukup berat sebab meniscayakan kerelaan hati meskipun ada yang dikorbankan. Jamaah shalat Jumat hafidhakumullah, Keempat, memakan rezeki Allah tapi tidak mau bersyukur. Karunia dan syukur merupakan pasangan yang tak bisa dipisahkan. Jika tidak ada kehidupan manusia di dunia ini yang luput dari karunia Allah, maka bersyukur adalah pilihan sikap yang wajib. Orang yang tak mau bersyukur adalah orang yang tidak memahami hakikat rezeki. Jenis anugerah Allah mungkin ia batasi hanya kepada ukuran-ukuran yang bersifat material belaka, misalnya jumlah uang, rumah, jenis makanan, dan lain-lain. Padahal, rezeki telah diterima setiap saat, berupa nikmat bendawi maupun nonbendawi. Mulai dari napas, waktu luang, akal sehat, hingga berbagai kecukupan kebutuhan lainnya seperti makan, tempat tinggal, dan pakaian. Hanya mereka yang sanggup merenungkannya yang akan jauh dari kufur nikmat alias tidak bersyukur. Syekh Nawawi al-Bantani dalam Nashaihul Ibad mengartikan syukur dengan ijrâ’ul adlâ’ fî mardlâtillâh taâlâ wa ijrâ’ul amwâl fîhâ menggunakan anggota badan dan harta benda untuk sesuatu yang mendatangkan ridha Allah. Artinya, selain ucapan “alhamdulillah”, kita dianggap bersyukur bila tingkah laku kita, termasuk dalam penggunaan kekayaan kita, bukan untuk jalan maksiat kepada Allah ﷻ. Perusak hati yang kelima adalah tidak ridha dengan karunia Allah. Pada level ini, orang bukan hanya tidak mau mengucapkan rasa syukur, tapi juga kerap mengeluh, merasa kurang, bahkan dalam bentuknya yang ekstrem melakukan protes kepada Allah. Allah memberikan kadar rezeki pada hambanya sesuai dengan proporsional. Tidak ada hubungan langsung bahwa yang kaya adalah mereka yang paling disayang Allah, sementara yang miskin adalah mereka yang sedang dibenci Allah. Bisa jadi justru apa yang kita sebut “kurang” sebenarnya adalah kondisi yang paling pas agar kita selamat dari tindakan melampaui batas. Betapa banyak orang berlimpah harta namun malah lalai dengan tanggung jawab kehambaannya boros, sombong, berfoya-foya, kikir, tenggelam dalam kesibukan duniawi dan lupa akhirat, dan lain sebagainya. وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَٰكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ “Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat." QS Asy-Syura 27 Keenam, mengubur orang mati namun tidak mengambil pelajaran darinya. Peristiwa kematian adalah nasihat yang lebih gamblang daripada pidato-pidato dalam panggung ceramah. Ketika ada orang meninggal, kita disajikan fakta yang jelas bahwa kehidupan dunia ini fana. Liang kuburan adalah momen perpisahan kita dengan seluruh kekayaan, jabatan, status sosial, dan popularitas yang pernah dimiliki. Selanjutnya, orang mati akan berhadapan dengan semua pertanggungjawaban atas apa yang ia perbuat selama hidup di dunia. Rasulullah ﷺ bersabda إِنَّ اْلقَبْرَ أَوَّلُ مَنَازِلِ الآخِرَةِ فَإِنْ نَجَا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَر مِنْهُ وَإِنْ لَمْ يَنْجَ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ “Sungguh liang kubur merupakan awal perjalanan akhirat. Jika seseorang selamat dari siksaan-nya maka perjalanan selanjutnya akan lebih mudah. Namun jika ia tidak selamat dari siksaan-nya maka siksaan selanjutnya akan lebih kejam.” HR Tirmidzi بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم Khutbah II اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ Alif Budi LuhurTranskripCeramah Singkat Tentang Cara Menghilangkan Sakit Hati. Pemirsa yang berbahagia, tentu saja ita pernah sakit dan pernah berobat ke dokter. Kira-kira kalau kita perhatikan dokter akan memberikan tiga saran/tahapan untuk mengobati sakit yang kita derita. bagi hati manusia. Karena Allah Subhanahu wa Ta'ala mensifati wahyu, mensifati
Bismillah...Hai, Sobat Guru Penyemangat, apakah dirimu sedang membutuhkan materi ceramah, kultum, atau tausyiah?Jika iya, agaknya contoh ceramah bertema manusia yang Guru Penyemangat racik berikut ini bisa membantu dan memenuhi saja, manusia itu makhluk yang sempurna karena memiliki akal, nafsu, dan hati, kan? Begitulah. Tapi soal mulia atau tidaknya dikembalikan lagi kepada si insan itu dalam kesempatan kali ini telah menyiapkan naskah ceramah dengan judul Manusia Makhluk Paling teks ceramah tentang manusia makhluk paling mulia ini dilengkapi dengan dokumen PDF dan bisa digunakan untuk tausyiah maupun disimak terlebih dahulu yaTeks Ceramah Tentang Manusia Makhluk Paling MuliaOleh Ozy V. AlandikaAssalamualaikum Warahmatullah WabarakatuhAlhamdulillah, alhamdulilladzi arsala rasulahu bilhuda wa diinil haq. Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa sholli wa sallim wa barik ala Muhammad wa ala alihi wasohbihi ajma’ yang dirahmati oleh Allah SWT;Pertama di aatas segalanya marilah kita bersyukur atas kehadirat Allah SWT, Tuhan yang Maha Kasih lagi Maha Sayang karena senantiasa memberikan nikmat yang tiada berlantunkan salam kita sampaikan kepada Nabiyullah Sayyidina wa Maulana Muhammad SAW. Semoga dengan seringnya bershalawat kita akan mendapat pertolongan beliau di Hari Kiamat nanti. Aamiin Ya hadirin kaum muslimin dan muslimat, pada kesempatan yang mulia ini saya akan menyampaikan ceramah dengan judul “Manusia Makhluk Paling Mulia”.Hadirin rahimakumullah;Mengapa manusia itu disebut makhluk yang mulia?KarenaManusia selaku insan mampu menjadi mercusuar dunia, mampu mengendalikan nafsunya, mampu mengarahkan menjadi kendaraan ibadah dengan tabiatnya yang santun, lembut dipenuhi cinta yang memenuhi penjuru yang tidak suka melihat insan yang terang dan bersinar wajahnya, dibumbui dengan akhlak, moral dan adab yang sejuk dipandang oleh kedua bola dari mulutnya perkataan dengan tata mau’izatul khasanah yang menenangkan. Itulah insan mengapa sekarang ini, begitu banyak manusia yang melanggar kemuliaannya? Melirik wajahnya yang penuh amarah dan arogansi kita takut dan di dekatnya yang penuh dengan su’ul adab, su’ul akhlak, dan su’ul moral kita menjadi perkataannya yang keji, hoaxs, penuh fitnah, dzalim, iri, dengki, hasut, dan mungkar kita menjadi malu dan mereka berpikir?Mari beristigfar. Astagfirullah al Baca Teks Ceramah Tentang Ibu yang Mulai MenuaHadirin rahimakumullah;Dalam Quran, Allah menyebut manusia dengan beragam istilah. Di antaranya adalah bani Adam disebutkan tujuh kali, al-insan sebanyak 65 kali, An-naas sebanyak 241 kali, Al-ins se banyak 18 kali, dan Basyar sebanyak 35 kali.Sejenak kita renungkan beberapa ayat berikutBismillahirrohmanirrohim;وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًاBacaan Latin Walaqod karromnaa banii aadama wahamalnaahum filbarri walbahri warozaqnaahum minatthoiyyibaati wa faddholnaahum alaa katsiirim mimman kholaqnaa Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna. QS Al-Isra ayat surah di atas, manusia di sebut dengan bani adam yang memberi kesan historis dalam konsep manusia, bahwa manusia berasal dari satu sumber dan satu darah, walaupun mereka tersebar dalam berbagai warna kulit, ras dan خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِيٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٖBacaan Latin Laqod kholaqnal insaana fii ahsani sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. QS At-Tiin ayat 4Dan pada surah di atas, manusia di sebut rahimakumullah;Menurut salah seorang ulama Mesir yang bernama Muhammad bin Mukrim bin Ali Abu al-Fadhl Jamaluddin Ibnu Manzhur al-Anshari ar-Ruwaifi'i al-Afriqi, atau yang dikenal dengan Ibnu Manzhur, dalam kitabnya Mu'jam Lisan al-'Arab fi al-Lughah menyatakan bahwa kata إنسان Insân diambil dari tiga akar kata, yaitu; أَنَسَ anasa, أَنَّسَ annasa serta نَسِيَ nasiya.Kata أَنَسَ anasa memiliki arti أَبْصَرَ abshara, عَلِمَ alima, إِسْتَاذَنَ istȃdzana. Kata أَبْصَرَ abshara berarti melihat, bernalar, berpikir. Dengannya manusia dapat mengambil pelajaran dari apa yang mereka عَلِمَ alima berarti mengetahui atau berilmu. Dengan ilmunya manusia dapat membedakan suatu perkara apakah itu benar atau kata إِسْتَاذَنَ istȃdzana memiliki arti meminta izin. Manusia merupakan makhluk yang beradab yang kadang meminta izin ketika akan melakukan sesuatu atau menggunakan sesuatu yang bukan pembedahan kata ini, al-Insân dapat diartikan sebagai makhluk yang mempunyai kemampuan untuk menalar, makhluk yang berilmu serta makhluk yang bagaimana dengan manusia yang diciptakan ia buta, ia cacat secara fisik, apakah ia tidak sempurna? أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ Bacaan latin Innallaha laa yanzuru ilaa suwaarikum wa amwaalikum walakin yanzuru ilaa quluubikum wa a’ Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” HR. Muslim no. 2564.Sungguh, manusia itu sempurna, dari detail proses penciptaannya, hatinya, mentalnya, hingga wal hadirat, ikhwan wa akhwat, ummi wal abi rahimakumullah...Kata insan sejatinya lebih mengacu pada peningkatan manusia ke derajat yang dapat memberinya potensi dan kemampuan untuk memangku jabatan khalifah dan memikul tanggung jawab serta amanat manusia di muka khalifah manusia dibekali dengan berbagai potensi seperti ilmu, persepsi, akal, dan nurani. Pertanyaannya adalahApakah khalifah di negeri kita sama dengan pengertian insan?Apakah pemangku amanat di negeri kita sama dengan pengertian insan?Dan apakah kita telah memanfaatkan ilmu, akal, dan nurani kita sebagai seorang insan? Hadirin rahimakumullah ganti sesuai seleraSekarang renungkanlah, bermuhasabalah, introspeksi dirilah, serta bayangkanlah jika kita menjadi seorang petani dari kita menanam sayuran, memberinya pupuk, memberinya kayu penopang agar berdiri tegak, menjaganya dengan pestisida, insektisida, menjauhkannya dari benalu, dari bakteri, jamur, rumput liar, ilalang, ya kan?Itu semua kita lakukan untuk apa?Masya Allah, agar sayuran itu lahir sebagai sayuran yang sempurna. Dan sekarang, dengan ucapan istighfar, Astagfirullah al adzim, ayok kira renungkan, bayangkan, dan camkan diri perlu lihat orang lain, tidak usah lihat orang di samping kita, langsung lihat diri dan hati kita. Kemudian tanyakan kepada hati sudahkah kita menanam diri dan hati kita dengan iman, ihsan dan taqwa?Sudahkah kita memupuk diri kita dengan ilmu, akidah, syariat, Al-Qur’an dan hadis? Sudahkah kita jaga hati dan diri kita dengan akhlak nabi MUHAMMAD SAW, Allahumma sholi ala Sayyidina Muhammad, wa ala ali Sayyidina Muhammad, sudahkan kita menjauhkan diri dan hati kita dari perbuatan syeitan, su’ul, keji dan munkar? Beranikah kita katakan sudah dengan kencang? Beranikah kita katakan sudah dengan lantang?Astagfirullah al adzim. Sungguh hina diri kita, yang bertabur banyak dosa ini. Malu kita sebagai hamba yang diciptakan secara “ahsani taqwim”, jika tidak memuliakan diri kita rahimakumullah;Ada beberapa cara yang bisa ditempuh agar menjadi makhluk yang paling mulia 1. Beriman, bertaqwa dan beramal Sholeh di waktu mudaSejenak kita renungkan ayat berikutQS Al-Hujurat ayat 13إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞBacaan Latin Inna akromakum indallaahi atqookum, innallaaha aliimun khobiir.“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” QS. Al-Hujurat [49]13Singkatnya adalah memuliakan diri dihadapan Allah SWT. Caranya bagaimana? Yuqimonassholat Mendirikan sholat, wa atuzzakat membayar zakat, amanu beriman, amilussholihat beramal saleh, qolilam minal lail ma yahja’un sedikit tidur di waktu malam, yastaghfirun selallu memohon ampun kepada Allah. Semua ini adalah untukفَٱدۡخُلِي فِي عِبَٰدِي وَٱدۡخُلِي جَنَّتِي Bacaan Latin Fadkhulii fii ibaadii, wadkhulii untuk masuk ke surganya Allah. Aaamiin Ya rabbal rahimakumullah;2. Menjadi perantara penyebar pesan ilahiApakah manusia itu mulia jika jadi presiden? Apakah manusia itu mulia jika jadi raja? Jadi Bupati? Jadi Gubernur? Jadi orang paling kaya? Jadi Ilmuan dunia? Belum tentu!Ulama besar Abdullah Ibnul Mubarak dalam kitab Tahzibul Kamal mengatakan“Aku tidak mengetahui sebuah derajat yang lebih utama setelah para nabi dibandingkan menyebarkan ilmu”. Maka berbahagialah, bergembiralah, bersyukulah hai para ulama, ustadz, pendakwah, para penyebar ilmu. Termasuk orang yang paling utama setelah rasul. Karena dengan ilmu yang di sebarkan, manusia tahu yang haq mana yang batil, mana jalan ke surga, mana jalan ke menyebarkan ilmu tidak mesti menunggu jadi ulama, tidak mesti jadi ustad, tapi bisa dengan share ilmu. Bukan share status di facebook saja, bukan share snap di wa saja, bukan pula share reels di instagram perlu diingat, untuk menyebarkan ilmu kita harus periksa ilmu itu, apakah shahih dan haq ilmunya, atau malah berisi kemungkaran dan hoaxs. Sudah cukuplah fitnah dunia ini menyebar dengan semestinya selektif dalam mencari ilmu, dan jangan sungkan untuk bertanya kepada yang ahli dan yang alim. Bukan alim ahli YouTube tapi alim karena ilmunya inilah kita disebut khalifah, yaitu sebagai perantara dari ajaran-ajaran Allah demi tersampainya rahmat Allah, Rabb semesta rahimakumullah;3. Mengendalikan hawa nafsunyaTanpa disadari, adanya potensi takwa dalam diri manusia, dapat membuat mereka lebih mulia dari makhluk yang telah diciptakan Allah sebelum mereka, yaitu keberadaan nafsu juga dapat membuat mereka lebih hina atau rendah dari hewan. Sebab, hewan memang di ciptakan Allah dengan nafsu karena itulah, sembari disuruh memperbanyak amal kebaikan, manusia juga diperintahkan Allah untuk berjuang menekan hawa nafsu dengan cara itulah manusia mampu meraih predikat makhluk paling mulia di sisi Allah bagian dari ujian Allah SWT, setiap jiwa manusia cenderung untuk berbuat dosa dan maksiat. Jika manusia dihadapkan pada pilihan yang baik atau pilihan yang buruk, ia lebih tertarik melakukan pilihan yang jika ada pilihan, bekerja keras ataupun istirahat, pilihan istirahat lebih ada pilihan, shalat Tahajud atau istirahat, jiwa manusia cenderung memilih istirahat. jika ada pilihan belajar atau main game, lebih pilih main ini sesuai dengan penegasan Kalam Allah; إِنَّ ٱلنَّفۡسَ لَأَمَّارَةُۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيٓۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٞ رَّحِيمٞYang artinya, "Karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh pada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang." QS Yusuf 53.Hadirin rahimakumullah;Waktu yang berlalu biarlah berlalu, karena sedetik pun kita tidak bisa kembali di masa baik pula jika kita hanya bergumam dengan penyesalan masa kita tatap waktu yang singkat ini untuk mendekatkan diri kepada Allah. Datanglah ke masjid dalam keadaan terbangun, sebelum kita didatangkan dalam keadaan ini kita di atas tanah, mungkin esok atau malah sebentar lagi, tanah yang di atas syahdan menimpa kebaikan meskipun kamu anggap itu kecil, sebab kita tidak tahu kebaikan mana yang akan mengantarkan kita ke ceramah yang bisa saya sampaikan pada kesempatan kali ini. Mohon maaf atas khilaf dan salah, dan kepada Allah mari bersama kita memohon Warahmatullah Wabarakatuh***Download Teks Ceramah Manusia Makhluk Paling Mulia PDFO ya, setelah menyimak naskah ceramah di atas, barangkali Sobat Guru Penyemangat ingin memiliki dokumennya untuk keperluan materi tausyiah atau bisa pula khutbah Jumat dan kultum, kan?Beruntung sekali di sini Guru Penyemangat telah menyiapkan link unduhan dokumen PDF ceramah tentang manusia makhluk yang paling klik tomboh download untuk mendapatkan file dokumennya secara Ceramah Manusia Makhluk Paling Mulia PDF***Demikianlah tadi sajian Guru Penyemangat tentang ceramah bertema Manusia Makhluk Paling Mulia yang dilengkapi dengan link unduhan dokumen bermanfaat, Menjalinjodoh baik dengan melindungi semua makhluk. Bervegetaris atas dasar welas asih dengan hati yang teguh. Rendah hati terhadap sesama demi menghantarkan kehangatan. Ceramah Master Cheng Yen tanggal 3 April 2020. Sumber: Lentera Kehidupan - DAAI TV Indonesia. Penerjemah: Hendry, Karlena, Marlina, Stella. Ditayangkan tanggal 5 April 2020. - Manusia adalah mahluk yang paling sempurna dalam penciptaanya dan ditakdirkan memiliki perasaan dalam hatinya. Merasa mudah sakit hati ternyata memiliki banyak faktor yang menyebabkannya. Dalam ceramah Ustadzah Oki Setiana Dewi menjawab mengapa hal itu bisa terjadi, dalam siaran kajian di kanal YouTubenya. Menurut ceramah Ustadzah Oki Setiana Dewi, salah satu faktor penyebab manusia sakit hati karena di dalam hatinya ada kekosongan atau lubang di dalam hati. Maksud dari lubang di hati menurut ceramah Ustadzah Oki Setiana Dewi adalah hatinya sedang kosong dari cinta kepada Allah SWT dan hanya diisi dengan kecintaan kepada dunia dan manusia saja sehingga itulah yang menyebabkan manusia bisa sakit hati terus menerus. Baca Juga Ceramah Ustadz Adi Hidayat Tentang Pintu Rezeki, Jalankan Amalan Ini Insya Allah Dimudahkan Dalam hal ini, tercermin dari firman Allah SWT dalam surah ar-Ra’d [13] ayat 28 berkenaan zikir dapat menenangkan hati الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ “yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” QS. Ar-Ra’d [13] ayat 28. Artinya Ketika hati kita tengah kosong terlebih tanpa melibatkan Allah dalam setiap pikiran kita, maka akan mudah syaiton untuk membisikan hal-hal negatif yang membuat hati kita menjadi sensitif terhadap nasehat baik sekalipun. Maka dari itu Islam mengajarkan bahwa dengan berdzikir dan mengingat Allah maka hati menjadi tenang, serta pikiran menjadi positif. Baca Juga 6 Rekomendasi Film Drama Korea Sedih dan Terlaris dalam 20 Tahun Terakhir, Siapkan Tisu untuk Menonton "Kenapa ada orang-orang yang jatuh cinta terus menerus, tapi kemudian kalau tidak mendapatkan cinta tersebut patah hati luar biasa? Karena hati yang kosong dari kecintaan kepada Allah SWT” ucap Ustadzah Oki Setiana Dewi. Melansir dari kanal YouTube wahdah daily pada Senin, 22 November 2021. Bahwa benak kita merupakan rumah tempat kita mengadu maka perlu lah diisi dengan sang pemilikna, untuk mengatahui setiap arah yang baik dari pikiran dan keputusan kita dalam menjadi kehidupan ini. Mengharapkan sesuatu kepada manusia merupakan jalan pikiran yang salah, karena pada dasarnya manusia memiliki batas dalam kemampuannya, maka dari itu pasrahkanlah segala urusan kita hanya kepada Allah SWT yang akan mengatur jalan hidup kita. Baca Juga Ceramah Ustadz Adi Hidayat Tentang Pintu Rezeki, Jalankan Amalan Ini Insya Allah Dimudahkan Setelahmemahami prinsip kebenaran, kita hendaknya berbagi dengan orang-orang. Inilah yang disebut mewariskan Dharma. Kita harus mewariskan dan membabarkan Dharma di dunia ini untuk menyucikan hati manusia. Dengan demikian, barulah hati kita bisa menyatu dan kita bisa mengetahui arah tujuan yang ben - Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia adalah organisasi global yang bertujuan memberikan pelayanan IbnuHajar al-Asqalani dalam kitab Munabbihât 'ala Isti'dâdi li Yaumil Mî'âd memaparkan penjelasan Imam Hasan al-Bashri bahwa setidaknya ada enam hal yang membuat hati manusia menjadi rusak. Pertama, berbuat dosa dengan berharap kelak ia bisa bertobat. Ia sadar bahwa apa yang dilakukan adalah kedurhakaan, tapi berangan-angan ia bisa Fahamanini dikenali di kalangan ahli antropologi (kajian manusia) sebagai fahaman determinisme (atau penentuan) budaya Haji Kassim menjelaskan perkataan sastera berasal daripada kata dalam bahasa Sanskrit, iaitu shastera yang bererti kitab suci, seni cerita atau cerita ctu 551: pengaruh islam dalam bidang sosio - budaya masyarakat melayu di mXpRlr.